Home > Integrated Digital > Integrated Marketing Communication di Area Digital

Integrated Marketing Communication di Area Digital

Integrated Marketing Communication atau disingkat IMC, adalah bentuk komunikasi terpadu dari pemasaran, sehingga customer memiliki pengalaman yang total terhadap suatu brand. Secara definisi (menurut wikipedia), IMC adalah proses perencanaan yang didesain untuk memastikan sebuah brand diterima oleh customer atau prospek terhadap produk, layanan atau organisasi, relevan dan konsisten setiap saat.

Online dan Offline

Integrated Marketing Communication melibatkan pendekatan yang menyeluruh untuk promosi. Dalam artikel ini, kita pisahkan upaya IMC lewat online dan offline. Offline adalah seluruh upaya IMC konvensional seperti iklan media cetak, public relationsbillboard, radio, televisi dan promo-promo langsung (below the line). Online adalah kanal-kanal yang ada di Internet yang memiliki fungsi relatif sama dengan media offline. Kanal itu termasuk Search Engine Optimisation (SEO), e-newsletter, mailing list, banner, webinar, blog, RSS, podcast, Internet TV, dan social network.

Strategi yang Terpisah

Selama ini banyak perusahaan yang menerapkan strategi yang terpisah. Hal ini umumnya didasari pada asumsi bahwa market Internet (terutama untuk Indonesia) belum mencapai titik critical mass untuk dijadikan sebagai sasaran sarana marketing. Dulu seringkali lihat iklan di TV atau koran yang memuat halaman website. Namun saat dikunjungi situsnya tidak ada materi yang bermanfaat. Keberadaan online (online presence) hanya dilakukan sebatas untuk portfolio (sekedar punya).

Potensi Internet dan Pemaduan IMC

Hingga tulisan ini dibuat, pengguna Internet Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang (data Internet World Stats). Tingkat pertumbuhannya di Indonesia mencapai 1,150% selama 8 tahun (2000-2008). Anda bisa ukur sendiri berapa kira-kira demografinya 10 tahun mendatang.

Dari angka-angka ini tidak sepatutnya Brand Owner atau Media Planner mengabaikan media online sebagai bagian dari strategi IMC mereka. Penggabungan antara online dan offline sebagai bagian dari totalitas pengalaman yang dimiliki pengguna, mutlak perlu.

Bagaimana memadukan dua dunia IMC?

  1. Analogi media
    Cara yang termudah adalah dengan menganalogikan kegiatan online sebagai representasi dari IMC offline. Misalnya pada IMC offline pasang banner di tepi jalan, pada IMC online dapat memasang banner pula di situs-situs media terkenal atau media spesifik. Jika sering menulis advertorial sebagai bagian dari kegiatan public relations, maka di online bisa menulis di blog, baik personal maupun bisa memesan ‘advertorial’ dari blogger-blogger ternama yang memiliki pembaca spesifik.
  2. Memanfaatkan statistik online sebagai supporting data
    Salah satu kekuatan media online adalah kemampuannya untuk tracking data dengan bantuan teknologi. Dalam media konvensional, tidak mungkin Anda tahu berapa orang yang memang membaca iklan Anda? Di Internet, Anda dapat mengetahui siapa yang meng-klik banner iklan Anda. Berapa banyak, dan kapan waktunya, dari daerah mana dia berasal? Juga dalam e-newsletter Anda bisa tahu cerita-cerita mana yang menarik bagi pembaca (dengan profile tertentu). Ini adalah supporting data yang kaya, yang bisa menunjang kegiatan IMC offline.

Saat ini halangan terbesar bagi Brand Owner dan Media Planner yang ingin terjun ke online marketing adalah tidak adanya profile yang memadai. Nielsen mungkin sudah memiliki profil pengguna online di luar negeri, tapi belum di Indonesia (tolong koreksi jika keliru). Tapi dengan terjun sebagai pionir, Anda dapat melakukan profiling sendiri dengan bantuan kemampuan pengumpulan data di media online yang sudah sangat advance.

Studi kasus jika di dalam negeri mungkin masih bisa dihitung dengan jari. Tapi di negara barat, terutama Amerika, hampir semuanya sudah terjun online. Barack Obama adalah contoh yang paling spektakuler, bagaimana media online dapat di leverage di level yang sangat masif.

1 Response

Leave a Reply